Membangun Tempat Suci

Seorang laki-laki mengunjungi orang suci. “Aku ingin membangun sebuah tempat ibadah ,”kata laki-laki itu.

“Perbaikilah niatmu.”

“Aku telah memperbaiki niatku.”

“Baiklah, jika niatmu telah benar, aku ingin tanya, bagaimana jika setelah tempat ibadah selesai dibangun lalu masyarakat menganggap orang lain yang telah membangunnya ? Mereka sama sekali tidak menyebut namamu,”tanya beliau.

“Hal itu tentu akan terasa berat bagiku,” jawabnya.

“Niatmu belum benar,” kata orang suci tersebut.

Datang seorang lelaki lain. “Aku ingin membangun tempat ibadah ikhlas demi Allah.”

“Berikanlah kepadaku dana yang telah kamu siapkan untuk membangun tempat ibadah itu . Nanti terserah padaku, akan kugunakan uang itu untuk membangun mesjid, makan atau dibagi-bagikan. Tetapi, di akhirat nanti, kamu akan memperoleh pahala membangun tempat ibadah.”

“Akan kupikir-pikir dahulu.” Setelah berpikir, akhirnya lelaki itu menolak usulan orang suci tersebut.

Seorang laki-laki lain datang menemui orang suci. “aku ini seorang pedagang. Sudah lama aku berniat membangun tempat ibadah semata-mata karena Allah. Untuk mewujudkan cita-citaku ini, aku menabung tiap kali memperoleh keuntungan. Sekarang tabunganku telah cukup untuk membangun tempat ibadah.”

“Jika kamu benar-benar ingin membangun tempat ibadah, berikanlah tabunganmu itu kepadaku, terserah aku, akan aku gunakan uang itu untuk membangun, menyedekahkannya atau memakannya. Tetapi, di surga nanti, kamu akan memperoleh pahala membangun tempat ibadah tersebut dan pahala dari orang-orang yang beribadah di dalamnya.”

“Ya, jika benar ucapanmu itu, akan kuserahkan semua tabunganku kepadamu, dan aku tidak perlu bersusah-payah memikirkan pembangunan tempat ibadah. Aku akan pulang sekarang untuk mengirimkan uang itu kepadamu. Gunakanlah uang itu sesukamu,” kata lelaki itu kegirangan.

“Aku ini tidak membutuhkan tabunganmu. aku hanya ingin menguji niatmu. Sekarang, bangunlah sebuah tempat ibadah olehmu dan umumkanlah rencana pembangunan itu kepada masyarakat, karena niatmu telah benar.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s